Rabu, 06 April 2011

Bertiga.....Menjalani Takdir

Aku adalah anak sulungdari 2 bersaudara. Adikku hanya semata wayang. Kami berdua telah bertahun-tahun sejak aku kelas tiga SD dan adikku masih bayi hanya hidup bertiga bersama Mama. Papaku?......kutak tahu entah dimana sekarang....terakhir kali aku bertemu dengan Papa ketika beliau pagi-pagi ke sekolahku hanya  untuk berpamitan mau pergi "jauh" bersama tante Rinda teman wanitanya. Ah, kalau mengingat hal itu....alangkah benci aku pada Papa. Jahat......busuk......dan tega menghancurkan masa depanku dan adikku hanya demi wanita lain. Kasihan Mama. Pasti hati Mama hancur  apalagi adikku masih kecil  dan masih membutuhkan banyak biaya disamping mungkin kasih sayang seorang Papa

Ternyata dugaanku salah, Mama memang bersedih hati tetapi sama sekali tak menyesali keputusan yang telah dibuat Papa untuk meninggalkan kami bertiga. Masih jelas dalam ingatan Mama mengatakan bahwa ini sudah menjadi takdir kami bertiga harus kehilangan sosok Papa yang telah terpikat wanita lain.Sungguh amat menyedihkan.Dan sampai sekarangpun bila teringat pengkhianatan Papa hatiku amat sedih, pedih dan teraniaya. Teganya wanita yang telah merebut Papa dari kehidupan aku,adik dan Mama.

Kehidupan kami bertiga selanjutnya dapat ditebak, kesulitan demi kesulitan menyertai hidup kami bertiga. Tentu saja masalah ekonomi. Tapi untunglah meski kami hidup serba kekurangan tapi kebahagiaan dan ketenangan hidup tak pernah lepas dari kami bertiga. Subhanallah. Sungguh Allah maha adil dan bijaksana pada hambanya yang sedang menjalani takdir kehidupan.
 
Di sebuah rumah petak kami hidup apa adanya. Tak jarang aku harus berpuasa karena tak ada yang harus kumakan. Kata Mama prihatin dan bersyukur , tak boleh mengeluh. Karena semua pasti ada akhirnya, demikian juga dengan kehidupan kami. Terkadang aku tidak bisa menerima kenyataan ini, apalagi di saat aku menjelang menjadi remaja  putri yang ingin juga bergaya seperti teman-temanku yang lain

Suatu hari aku mendapat prestasi sebagai pelajar dengan nilai Unas tertinggi di sekolahku. Bangga, sudahlah pasti tapi juga sedih karena sebentar lagi aku tak bisa melanjutkan sekolah. Kumenangis sedih di pangkuan Mama.Dengan tersedu sedu aku mengumpat menyalahkan Papa yang tak bertanggung jawab atas sekolahku ini

"......Papa jahat  Ma.... bagaimana ini?..... aku tak bisa melanjutkan sekolah......padahal aku masih ingin sekolah.....hiks....hiks...."
"Sudahlah mbak .....sabaaaar....hapus itu air mata....ayo, kita ambil air wudhu terus sholat minta petunjuk  pada Gusti Allah apa yang terbaik buat masa depan sekolahmu"

Ya, Allah.....betapa tegar dan sabar Mamaku menghadapi persoalan pelik ini. Tapi memang kupikir tak ada gunanya aku menangis. Sekarang yang terpenting bagaimana caranya aku mendapat dana buat sekolahku selanjutnya.   (Bersambung.......sabaaaaar ya....)



.

.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar